Rabu, 02 November 2016

makalah "motivasi"


BAB I
PENDAHLUAN

1.1              Latar Belakang
Dalam dunia yang modern ini banyak sekali orang-orang yang berbicara mengenai masalah motivasi. Bahkan sudah banyak sekali orang-orang yang dinyatakan sebagai motivator seperti halnya Mario Teguh. Sebegitu pentingnya motivasi sehingga pemberian motivasi pun sudah dipublikasikan dalam dunia pertelevisian tak hanya itu, dalam setiap seminar-seminar banyak sekali kita temukan acara-acara yang menghadirkan sang motivator-motivator guna memberikan motivasi kepada para peserta seminar. Dan biasanya sang motivator adalah orang-orang yang sukses. Lalu apakah sebenarnya motifasi itu ?
Dalam makalah ini lah pemakalah akan mencoba sedikit menjelaskan tentang motivasi maupun hal-hal yang bersangkutan dengan motivasi.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Apakah devinisi motif dan motivasi ?
2.      Bagaimana konsep kebutuhan motivasi ?
3.      Bagaimanakah dinamika motivasi ?
4.      Apakah fungsi motivasi ?
5.      Apa sajakah strategi dan pengukuran motivasi ?
1.3              Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apakah motif dan motivasi.
2.      Untuk mengetahui konsep kebutuhan motivasi.
3.      Untuk mengetahui dinamikamotivasi.
4.      Untuk mengetahui fungsi motivasi.
5.      Untuk mengetahui strategi dan pengukuran motivasi.



 

1.4              Metode Penulisan
Pengambilan sumber isi makalah dilakukan dengan cara membaca buku-buku referensi, penelususran web-web yang bersangkutan dengan materi, dan dari penalaran penulis.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Devinisi Motif dan Motivasi
            Ada beberapa pendapat mengenai pengertian motif. Sherif & Sherif (1956), menyebutkan motif sebagai suatu istilah generik yang melipui semua faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis prilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan kinginan, aspirasi dan selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut. Giddens (1991:64) mengartikan motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energi pada tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif/prilaku kearah pemuasaan kebutuhan. Menurut Giddens, motif tak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan suatu “keadaan perasaan” secara singkat, Nasution menjelaskan bahwa motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
            Jadi motif itu adalah tujuan. Tujuan ini disebut insentif (incentive). Adapun insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.[1]
            Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
            mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energy didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamalik, 1992: 173) perubahan dalam diri sesorang itu berbentuk aktifitas nyata berupa kegiatan fisik. Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktifitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
2.2       Konsep Kebutuhan
            Tingkah laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai “tingkah laku yang dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian suatu tujuan, agar suatu kebutuhan terpenuhi dan suatu kehendak terpuaskan” (Dirgagunarsa, 1996:93-94).
            Katz dan kawan-kawan menelusuri asal-usul kebutuhan pada apa yang secara samar-samar mereka identifikasikan sebagai “asal-usul sosial dan psikologis”-nya (Katz, et.al., 1974:14) Rosengren (1974:270) mendefinisikan kebutuhan sebagai “infrastruktur biologis dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua prilaku sosial manusia” dan bahwa “sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis.... menyebabkan kita beraksi dan bereaksi”.
            Dari segi arti psikologis, Msthafa Fahmi menjelaskan kata “kebutuhan” sebagai suatu istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkn suatu fikiran atau konsep yang menunjuk pada tingkah laku makhluk hidup dalam perubahan dan perbaikan yang tergantung atas tunduk dan dihadapkanya pada proses pemilihan (Fahmi, 1977: 45). Batasan ini, menurut Fahmi dikenal dengan batasan pragmatis.
            McQuail, Blumler, dan Brown (1972:144) berpendapat bahwa kebutuhan berasal dari “pengalaman sosial” dan bahwa media masa sekalipun “kadang-kadang dapat membant membangkitkan  khalayak ramai mengenai suatu kesadaran” akan kebutuhan tertentu yang berhubungan dengan situasi sosialnya”.
           


2.2.1    Teori-Teori Kebutuhan
            Hierarki kebutuhan maslow
            Secara singkat maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Pada awalnya, maslow mengajukan hierarki 5 tingkat yang terdiri atas kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, penghargaan, dan mewujudkan jati diri. Dikemudian hari, ia menambahkan dua kebutuhan lagi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui dan memahami serta kebutuhan estetika (Ross, 1998).
            Teori ERG (Exxistment, Relatedness, Growth)
            Alderffer  (1972) mengemukakan tiga kategori kebutuhan. yaitu : excistence (E) atau eksistensi (meliputi kebutuhan fisiologis seperti lapar,haus.dsb), relatedness (R) atau keterkaitan (hubungan orang-orang yang penting bagi seseorang, seperti keluarga, sahabat dan penyedia tempat kerja), dan growth (G) atau pertumbuhan (keinginan untuk produktif atau kreatif).
            Teori motifasi dua faktor
            Dengan menggunakan teknik insiden kritis, Herzberg mengumpulkan data tentang kepuasaan dan ketidak puasaan orang dalam pekerjaan mereka. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasaan kerja disebut motivator (prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan. dsb). Faktor faktor yang berkaitan dengan ketidak puasaaan disebut faktor pemeliharaan (maintenance) “gaji, pengawasan, keamanan kerja, administrasi.dsb.”
            Teori desakan kebutuhan Murray
            Menurut Murray kebutuhan manusia berdiri sendiri-sendiri, terpisah satu dari yang lain. Ini berarti jika kita mengetahui suatu kekuatan atau tingkat kepuasaan sau kebutuhan tidak berarti kita akan tau pula mengenai tingkat kekuatan kebutuhan-kebutuhan lain.
            Teori kebutuhan untuk berprestasi McClelland
            Menurut David untuk membuat suatu pekerjaan berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut.
            Teori harapan Vroom
            Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis-jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan, alih-alih berdasarkan kebutuhan internal. Teori harapan memiliki tiga asumsi pokok :
1)         setiap individu percaya bahwa ia berprilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu.
            2)         setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu.
            3)         setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa
 sulit mencapai hasil tersebut.
2.3       Strategi Dan Pengukuran Motivasi
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
            Untuk mengubah pola pembelajaran tentu memerlukan perubahan sikap dari guru dalam menentukan sasaran pembelajaran. Perubahan yang harus dilakukan adalah perubahan dari :
1. Sasaran menghafal menjadi Berfikir kritis dilanjutkan meneliti, kemungkinan dengan penjelasan yang rasional
2. Kegiatan meringkas, mengulas menjadi mengidentifikasi, merumuskan diteruskan dengan bertanya, menilai, berargumentasi dan berhipotesa
3. Bertanya dengan kata apa, siapa, mengapa, dimana menjadi Bagaimana, Bagaimana kalau.. ? Apakah syah dan penting ?
4. Tujuannya benar menurut fakta menjadi mendapat gagasan asli dari siswa dan memperbaiki yang lama.
5. Pendekatan belajar mengulang menjadi menganalisa dan mencoba hal-hal baru
Kedua: Mengembangkan unsure-unsur yang mampu memotivasi      Para Pendidik ahli menawarkan ide-ide bagaimana membangun strategi memotivasi siswa lebih dari 200 ide yang disajikan dalam buku “ A Recource Guide for Secondary School Teaching “ terlampir. Ide-ide tersebut perlu kita kaji lebih lanjut, apakah ide-ide itu di sekolah kita dapat dilaksanakan seluruhnya, sebagian atau perlu modifikasi. Dengan mengkaji ide-ide strategi motivasi dari sumber tersebut di atas, dapat diketahui ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran agar menumbuhkan motivasi siswa .Berikut adalah unsure-unsur yang mampu membangun motivasi anak:
1. Media Pembelajaran
Media adalah benda, baik yang berupa perangkat keras atau lunak yang menjadi perantara terjadinya proses belajar. Media yang dipergunakan bisa berbentuk alat peraga atau sarana. Alat peraga mengandung ciri –ciri konsep yang dipelajari. Fungsinya untuk menurunkan keabtrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti dari konsep tersebut. Alat peraga bisa dibuat guru/ siswa atau pabrik. Sarana adalah media pembelajaran yang berfungsi agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik. Sarana yang dipergunakan dapat berupa perangkat keras atau perangkat lunak.
2. Materi Pembelajaran
Materi yang akan diberikan dipersiapkan dengan matang dengan memperhatikan kondisi siswa. Materi yang akan dibelajarkan meliputi isi/ materi ( konten), hubungan dengan bidang/ilmu lain (konteks) dan proses ( transformasi isi/materi).
3. Strategi dan metode Pembelajaran
Strategi dan metode pembelajaran juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Strategi dan metode yang dapat memotivasi siswa adalah strategi dan metode yang melibatkan siswa belajar sambil mengerjakan ( Learning by doing).
4. Sikap Guru
Guru yang tidak mau repot, puas hanya dengan sasaran belajar pada tingkat rendah ( sisi kiri dari pola pembelajaran di atas). Diharapkan Guru mulai mencoba mengubah sikap dengan mengarahkan sasaran pembelajarannya pada tingkat menegah atau tingkat tinggi.
Ketiga: Mendesain  Pembelajaran
            Diharapkan setiap pembelajaran, siswa selalu termotivasi. Untuk menciptakan pembelajaran yang dimaksud perlu pola yang menggambarkan pembelajaran tersebut. Berikut salah satu pola pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi siswa. Pola ini disusun sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran oleh para guru, mencakup sebelum, proses dan sesudah kegiatan pembelajaran.
A. Pra Kegiatan Pembelajaran
1. Siapkan kuantitas isi pelajaran dan langkah-langkah penyajiannya
2. Pilihlah dan siapkan alat bantu (media) dan atau contoh-contoh berupa benda-benda riil / simulasi benda riil yang sesuai dengan materi bahasannya
3. Cek alat peraga/eksperimen sebelum dipergunakan baik jenis, urutan penggunaan dan fungsi alat tersebut.
4. Pilihlah strategi pembelajaran sesuai karakter perkembangan siswadan siapkan secara baik dan matang.
5. Mencoba menggali problem dan minat para siswa secara individu/ kelompok
B. Kegiatan Pembelajaran
I. Pendahuluan
1. Kemukakan tujuan belajar dengan jelas secara lisan atau tertulis
2. Libatkan siswa untuk berpartisipasi dalam menyiapkan alat peraga
3. Kenalilah siswa secara merata dan ciptakan suasana akrab
4. Berilah gambaran mengenai mengapa materi dipelajari, aplikasi nya dalam hidupan, anekdot-anekdot atau hal-hal menarik lainnya yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.
II. Penyajian materi
1. Memvariasikan prosedur atau metode dengan serasi dan tepat
2. Jangan biarkan siswa dalam kesulitan
3. Tanyakan mengenai kesulitan siswa atau berilah kesempatan bertanya
4. Berilah penghargaan dalam bentuk pujian, komentar, hadiah, atau bentuk lain yang relevan
5. Penyajian materi dengan alat peraga, audio, audio visual atau dengan contoh benda-benda riil yang telah disiapkan dengan baik
6. Berikan kegiatan dengan melibatkan semua siswa dan sediakan bagian siswa untuk kerjasama dengan kelompoknya
7. Berilah penjelasan untuk kata-kata asing yang belum banyak dikenal siswa
8. Berilah kesempatan siswa untuk menulis catatan penting
9. Memberikan motivasi (keyakinan, rasa simpati, kemampuan yang dimiliki, ambil bagian) siswa
10.Berilah resume penting dan penguatan-penguatan materi yang barusaja dibahas.
11.Berilah tugas latihan, quiz, dan pertanyaan yang bersifat menjajaki penguasaan atas materi yang baru saja dipelajari siswa.
                        Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa,pengelola sekolah, lingkungan, kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaianyang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).
            Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang benar –benar guru bukan hanya guru –guruan yang sak enak udele dewe, sehingga mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.Keberhasilan proses pendidikan secara langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satu indikator kualitas pendidikan yang baik adalah lulusannya yang berkompeten atau kompetensi lulusan. Kompetensi merupakan fungsi dari banyak variabel antara lain kemampuan peserta didik, kemampuan pendidik, fasilitas, manajemen dan perkembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi serta seni.
            Sistem evaluasi yang dipergunakan memegang peranan penting dalam laporan lembaga pendidikan karena lewat laporan itulah orang tua akan mengetahui perkembangan anak-anak mereka setelah mengikuti proses pendidikan di lembaga tempat mereka menitipkan anaknya untuk belajar. Dalam memberikan laporan kemajuan belajar, pihak sekolah harus melakukan pengukuran untuk menilai prestasi belajar siswa selama selang waktu tertentu. Melalui laporan belajar juga para siswa dapat melihat sejauh mana kemampuan mereka setelah menempuh proses belajar mengajar selama selang waktu tertentu.
            Menurut Norman E. Gronlund (1976), “evaluation a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achieved by pupils” (evaluasi adalah suatu proses yang sistematik untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa).
            Bila kita menggunakan alat penilaian, kita perlu ingat bahwa alat ukur itu harus baik. Bila alat ukur itu tidak baik, lebih baik kita tidak melakukan penilaian dengan alat ukur itu. Syarat bahwa alat ukur itu baik adalah telah terpenuhinya persyaratan umum yaitu validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda alat ukur itu telah memadai. Syarat berikutnya bahwa alat ukur yang dipakai itu baik, ialah tujuannya sesuai.
BAB III
PENUTUP
3.1       Simpulan
motif itu adalah tujuan. Tujuan ini diswbut insentif (incentive). Adapun insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.
Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.



 

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita.L.        1983. Pengantar psikologi. PT Gelora Aksara Pratama : Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri.        2011. psikologi belajar. Rineka cipta : Jakarta.
Sobur, Alex.    2013. Psikologi umum ; dalam lintasan sejarah. CV.Pustaka setia : Bandung.
http://doubleyuw-clover.blogspot.com/2012/11/makalah-isd-2-strategi-mengajar-untuk_14.html


 


[1] ).Alex Sobur, psikologi umum,  (bandung: pustaka setia,2013), Cet-5, hal.268.

Rangkuman observasi




RANGKUMAN MATA KULIAH PSIKODIAGNOSTIKA;OBSERVASI

A.    Pengertian Observasi
Observasi adalah suatu metode penelitian yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan panca indra. Observasi biasanya sengaja dilakukan untuk mengamati kejadian-kejadian yang langsung dapat ditangkap pada saat kejadian-kejadian tersebut berlangsung, hal ini dilakukan untuk mengamati atau meneliti objek dan untuk mendapatkan data yang lebih kompleks mengenai objek penelitian.

B.     Tujuan Dan Fungsi Observasi
Observasi bertujuan untuk mengumpulkan data yang lebih kompleks mengenai objek yang kita teliti. Adapun fungsi observasi adalah untuk mencocokkan data yang kita peroleh sebelumnya dengan kenyataan yang ada. Dapat dikatakan bahwa observasi merupakan salah satu cara untuk menguji validitas data atau isu.

C.    Jenis-Jenis Observasi
Jenis-jenis observasi terbagi menjadi 3, yaitu :
·         Observasi ditinjau dari peranan observer
·         Observasi ditinjau dari perencanaan
·         Observasi ditinjau dari segi situasi
1.      Observasi ditinjau dari peranan observer
Observasi ditinjau dari peranan observer terbagi menjadi tiga, yaitu observasi partisipan, observasi non partisipan dan kuasi partisipan.
Observasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara observer terlibat langsung didalamnya. Dimana observer tidak memerlukan alat bantu lainnya untuk mengamati, karna pengamatan dilakukan lebih dekat dan observer terlibat langsung dengan objek, sehingga panca indra dapat langsung menjadi tols pengamat tanpa harus melalui perantara alat.
Observasi non partisipan, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara mengamati objek dari kejauhan dengan kata lain observer tidak terlibat langsung dengan objek. Dapat juga dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti cctv, webcam dll.
Kuasi partisipan, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara observer turut berpartisipasi, turut ambil bagian dan terlibat dengan objek tapi sebenarnya tidak, dengan kata lain observer hanya berpura-pura berpartisipasi namun sebenarnya tidak, observer hanya melakukan pengamatan saja.
2.      Observasi ditinjau dari perencanaan
Observasi ditinjau dari perencanaan dibagi menjadi dua bagian, yaitu observasi sistematis dan non sistematis.
Observasi sistematis, yaitu observasi yang dilakukan secara terstruktur. Observasi yang dilakukan sudah memiliki pedoman, tujuan dan materinya pun sudah ditentukan. Dengan kata lain observasi jenis ini sudah memiliki tujuan inti atau tujuan yang menjurus dalam melakukan observasi.
Observasi non sistematis, yaitu observasi yang dilakukan secara tidak terstruktu. Observasi yang dilakukan belum memiliki pedoman, tujuanya mungkin sudah ditentukan tapi hanya sebatas tema belum mendetail dan menjurus pada suatu aspek, materinya pun belum disiapkan secara rinci. Observasi jenis ini biasanya tidak membatasi bahasan dalam pelaksanaan observasinya.
3.      Observasi ditinjau dari segi situasi
Observasi ditinjau dari segi situasi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu free situation observation, manipulated situation observation dan partially controlled situation observation (kombinasi).
Free situation observation, yaitu observasi yang dijalankan dalam situasi yang bebas. Dengan kata lain situasi terbentuk secara alamiah tanpa ada setting dari observer.
Manipulated situation observation, yaitu observasi yang dijalankan dalam situasi yang sudah dimanipulasi. Dengan kata lain, situasi yang ada sudah diatur oleh observer.
Partially controlled situation observation (kombinasi), yaitu observasi yang dilakukan dalam dua jenis situasi. Observasi dilakukan dalam situasi yang bebas dan dilakukan pula observasi dalam situasi yang sudah dimanipulasi.

D.    Langkah-Langkah Observasi
Dalam melakukan observasi ada beberapa langkah yang harus kita persiapkan, yaitu :
·         Menentukan materi yang akan diobservasi
·         Menentukan cara atau teknik yang akan digunakan dalam melakukan observasi
·         Dapat membedakan fakta dan interpretasi dalam mencatat saat melakukan observasi, catat lah fakta terlebih dahulu.
·         Selama observasi berlangsung observer tidak diperkenankan untuk mencatat atau memberikan interpretasi. Karna interpretasi akan diberikan pada saat observasi sudah selesai dan fakta sudah terkumpul.
·         Observer disarankan untuk melatih kecakapan mengobservasi secara kontinu atau berkelanjutan agar dapar menjadi observer yang mahir.

E.     Alat Observasi
Ada beberapa alat yang dapat kita gunakan saat melakukan observasi. Diantaranya, anecdotal record, catatan berkala, check list, dan rating scale.
1.      Anecdotal record
Anecdotal record merupakan suatu catatan yang dibuat oleh observer yang berisi tingkah laku luar biasa yang dilakukan oleh objek. Catatan ini harus segera dibuat setelah kajadian atau tingkah laku tersebut berlangsung, dalam pencatatan pun harus mendetail mengenenai apa, kapan dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Dalam melakukan pencatatan yang dicatat adalah fakta bukan interpretasi.

contoh lembar observasi 1 ;
I.                   Identitas
Nama               : Aliya Siska Ananta
Ttl                    : Kalianda, 10 oktober 2000
JK                    : Perempuan
Kelas               : X Perawat 2
II.                Lokasi observasi : SMK Kesehatan Kalianda, Lampung Selatan.
No
Kejadian
Waktu
Lokasi
Keterangan
1.
Memukul meja
09 : 00 wib
Didalam kelas
Saat setelah salah satu temannya mengatakan “kamu itu anak pungut mangkanya papah sama mamah kamu gk ada yang peduli sama kamu”.
2.
Menangis
09 : 08 wib
Sudut kiri belakang kelas
Memeluk kaki dan kepala menunduk.
3.
Berteriak
09 : 23 wib
Didalam kelas
Saat jam istirahat dan tak ada orang lain selain dirinya dikelas.
4.
Membenturkan kepala ke tembok
10 : 01 wib
Didalam kelas
Benturan dilakukan sebanyak 3 kali.

2.      Catatan berkala
Dalam melakukan pencatatan observer tidak mengamati secara terus menerus melainkan ada periode atau waktu-waktu tertentu.

Contoh lembar observasi 1 ;
I.                   Identitas
Nama               : Aliya Siska Ananta
Ttl                    : Kalianda, 10 oktober 2000
JK                    : Perempuan
Kelas               : X Perawat 2
II.                Lokasi observasi : SMK Kesehatan Kalianda, Lampung Selatan.

No
Kejadian
Waktu
Lokasi
Keterangan
1.
Berteriak
07 : 15 wib
(sebelum masuk kelas)
Diparkiran
Kepada teman perempuan
2.
Mengobrol
08 : 25 wib
(saat KBM berlangsung)
Didalam kelas
Dengan teman lelaki disebelahnya
3.
Mengunci salah seorang teman perempuan didalam kelas
14 : 30 wib
(saat pulang sekolah)
Diluar kelas
Teman lelaki menarik pintu dan objek mengunci pintu

3.      Check list
Dalam alat ini berisi faktor-faktor atau indikator-indikator yang ingin diketahui dalam penelitian. Alat ini dimaksudkan agar observasi lebih sistematis. Namun dalam menggunakan alat ini hanya terbatas pada faktor-faktor yang sudah ditentukan saja, tidak dapat melihat secara lebih luas.

Contoh lembar observasi 1 ;
No
Indikator
Nama
Aisyah
Arini
Anggun
Fatimah
1.
Mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian
ü   



2.
Mengikuti pelajaran sambil mengobrol


ü   
ü   
3.
mengikuti pelajaran dengan mengantuk

ü   



                       


Contoh lembar observasi2 ;
                        Nama   : Anggun Melati Putri
                       
No
Indikator
Prilaku
Ya
Tidak
1.
Mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian
Mata fokus kedepan
ü   

2.
Mengikuti pelajaran dengan mengobrol
Bercakap-cakap dengan teman

ü   
3.
Mengikuti pelajaran dengan mengantuk
Menguap atau tidur

ü   
           
4.      Rating scale
Alat ini hamper sama dengan check list. Namun, pada alat ini terdapat tingkatan-tingkatan dalam setiap indikatornya, dimana tingkatan-tingkatan tersebut sudah ditentukan oleh observer.

Contoh lembar observasi 1 ;
No
Indikator
Gustin
Ayub
1.
Selalu memperhatikan guru
ü   

2.
Kadang-kadang memperhatikan guru


3.
Tidak pernah memperhatikan guru

ü   

Contoh lembar observasi 2 ;
Nama   : Anita Zuleha
No
Indikator
Selalu
Kadang-Kadang
Tidak Pernah
1.
Memperhatikan guru

ü   

2.
Mengerjakan tugas
ü   


3.
Mengobrol

ü   


Catatan ; selalu, kadang-kadang dan tidak pernah merupakan tingkatan-tingkatan yang frekuensinya sudah ditentukan oleh observer.

Pertanyaan :
1.      Apakah kida dapat atau diperbolehkan untuk mengobservasi diri kita sendiri ?