BAB I
PENDAHLUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam dunia yang modern ini banyak sekali
orang-orang yang berbicara mengenai masalah motivasi. Bahkan sudah banyak
sekali orang-orang yang dinyatakan sebagai motivator seperti halnya Mario
Teguh. Sebegitu pentingnya motivasi sehingga pemberian motivasi pun sudah
dipublikasikan dalam dunia pertelevisian tak hanya itu, dalam setiap
seminar-seminar banyak sekali kita temukan acara-acara yang menghadirkan sang
motivator-motivator guna memberikan motivasi kepada para peserta seminar. Dan
biasanya sang motivator adalah orang-orang yang sukses. Lalu apakah sebenarnya
motifasi itu ?
Dalam makalah ini lah pemakalah akan mencoba sedikit
menjelaskan tentang motivasi maupun hal-hal yang bersangkutan dengan motivasi.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apakah
devinisi motif dan motivasi ?
2. Bagaimana
konsep kebutuhan motivasi ?
3. Bagaimanakah
dinamika motivasi ?
4. Apakah
fungsi motivasi ?
5. Apa
sajakah strategi dan pengukuran motivasi ?
1.3
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui apakah motif dan motivasi.
2. Untuk
mengetahui konsep kebutuhan motivasi.
3. Untuk
mengetahui dinamikamotivasi.
4. Untuk
mengetahui fungsi motivasi.
5. Untuk
mengetahui strategi dan pengukuran motivasi.
1.4
Metode
Penulisan
Pengambilan
sumber isi makalah dilakukan dengan cara membaca buku-buku referensi,
penelususran web-web yang bersangkutan dengan materi, dan dari penalaran
penulis.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Devinisi Motif dan Motivasi
Ada
beberapa pendapat mengenai pengertian motif. Sherif & Sherif (1956),
menyebutkan motif sebagai suatu istilah generik yang melipui semua faktor
internal yang mengarah pada berbagai jenis prilaku yang bertujuan, semua
pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs)
yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan kinginan, aspirasi dan
selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut. Giddens (1991:64)
mengartikan motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energi pada
tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif/prilaku kearah pemuasaan kebutuhan.
Menurut Giddens, motif tak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan
suatu “keadaan perasaan” secara singkat, Nasution menjelaskan bahwa motif
adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Jadi
motif itu adalah tujuan. Tujuan ini disebut insentif (incentive). Adapun
insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan
yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.[1]
Banyak para ahli yang sudah
mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka
masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah
energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai
tujuan tertentu.
2.2 Konsep Kebutuhan
Tingkah
laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai “tingkah laku yang dilatar belakangi
oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian suatu tujuan, agar suatu
kebutuhan terpenuhi dan suatu kehendak terpuaskan” (Dirgagunarsa, 1996:93-94).
Katz dan
kawan-kawan menelusuri asal-usul kebutuhan pada apa yang secara samar-samar
mereka identifikasikan sebagai “asal-usul sosial dan psikologis”-nya (Katz,
et.al., 1974:14) Rosengren (1974:270) mendefinisikan kebutuhan sebagai
“infrastruktur biologis dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua prilaku
sosial manusia” dan bahwa “sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis....
menyebabkan kita beraksi dan bereaksi”.
Dari
segi arti psikologis, Msthafa Fahmi menjelaskan kata “kebutuhan” sebagai suatu
istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkn suatu fikiran atau
konsep yang menunjuk pada tingkah laku makhluk hidup dalam perubahan dan
perbaikan yang tergantung atas tunduk dan dihadapkanya pada proses pemilihan
(Fahmi, 1977: 45). Batasan ini, menurut Fahmi dikenal dengan batasan pragmatis.
McQuail,
Blumler, dan Brown (1972:144) berpendapat bahwa kebutuhan berasal dari
“pengalaman sosial” dan bahwa media masa sekalipun “kadang-kadang dapat membant
membangkitkan khalayak ramai mengenai
suatu kesadaran” akan kebutuhan tertentu yang berhubungan dengan situasi
sosialnya”.
2.2.1 Teori-Teori Kebutuhan
Hierarki
kebutuhan maslow
Secara
singkat maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong
(motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Pada awalnya,
maslow mengajukan hierarki 5 tingkat yang terdiri atas kebutuhan fisiologis,
rasa aman, cinta, penghargaan, dan mewujudkan jati diri. Dikemudian hari, ia
menambahkan dua kebutuhan lagi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui dan memahami
serta kebutuhan estetika (Ross, 1998).
Teori ERG (Exxistment, Relatedness, Growth)
Alderffer (1972) mengemukakan tiga kategori kebutuhan.
yaitu : excistence (E) atau eksistensi
(meliputi kebutuhan fisiologis seperti lapar,haus.dsb), relatedness (R) atau keterkaitan (hubungan orang-orang yang penting
bagi seseorang, seperti keluarga, sahabat dan penyedia tempat kerja), dan growth (G) atau pertumbuhan (keinginan
untuk produktif atau kreatif).
Teori motifasi dua faktor
Dengan
menggunakan teknik insiden kritis, Herzberg mengumpulkan data tentang kepuasaan
dan ketidak puasaan orang dalam pekerjaan mereka. Faktor-faktor yang
memengaruhi kepuasaan kerja disebut motivator (prestasi, penghargaan, tanggung
jawab, kemajuan. dsb). Faktor faktor yang berkaitan dengan ketidak puasaaan
disebut faktor pemeliharaan (maintenance) “gaji, pengawasan, keamanan kerja,
administrasi.dsb.”
Teori desakan kebutuhan Murray
Menurut
Murray kebutuhan manusia berdiri sendiri-sendiri, terpisah satu dari yang lain.
Ini berarti jika kita mengetahui suatu kekuatan atau tingkat kepuasaan sau
kebutuhan tidak berarti kita akan tau pula mengenai tingkat kekuatan
kebutuhan-kebutuhan lain.
Teori kebutuhan untuk berprestasi McClelland
Menurut
David untuk membuat suatu pekerjaan berhasil, yang paling penting adalah sikap
terhadap pekerjaan tersebut.
Teori harapan Vroom
Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis-jenis
pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan, alih-alih berdasarkan
kebutuhan internal. Teori harapan memiliki tiga asumsi pokok :
1) setiap individu percaya bahwa ia
berprilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu.
2) setiap hasil mempunyai nilai atau daya
tarik bagi orang tertentu.
3) setiap
hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa
sulit mencapai hasil tersebut.
2.3 Strategi Dan Pengukuran Motivasi
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani
"strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general"
atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam
pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai
tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan
mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam)
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk
mengubah pola pembelajaran tentu memerlukan perubahan sikap dari guru dalam
menentukan sasaran pembelajaran. Perubahan yang harus dilakukan adalah
perubahan dari :
1. Sasaran menghafal menjadi Berfikir kritis
dilanjutkan meneliti, kemungkinan dengan penjelasan yang rasional
2. Kegiatan meringkas, mengulas menjadi
mengidentifikasi, merumuskan diteruskan dengan bertanya, menilai,
berargumentasi dan berhipotesa
3. Bertanya dengan kata apa, siapa, mengapa, dimana
menjadi Bagaimana, Bagaimana kalau.. ? Apakah syah dan penting ?
4. Tujuannya benar menurut fakta menjadi mendapat
gagasan asli dari siswa dan memperbaiki yang lama.
5. Pendekatan belajar mengulang menjadi menganalisa
dan mencoba hal-hal baru
Kedua: Mengembangkan unsure-unsur yang mampu
memotivasi Para Pendidik ahli menawarkan ide-ide
bagaimana membangun strategi memotivasi siswa lebih dari 200 ide yang disajikan
dalam buku “ A Recource Guide for Secondary School Teaching “ terlampir.
Ide-ide tersebut perlu kita kaji lebih lanjut, apakah ide-ide itu di sekolah
kita dapat dilaksanakan seluruhnya, sebagian atau perlu modifikasi. Dengan
mengkaji ide-ide strategi motivasi dari sumber tersebut di atas, dapat
diketahui ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran agar
menumbuhkan motivasi siswa .Berikut adalah unsure-unsur yang mampu membangun
motivasi anak:
1. Media Pembelajaran
Media adalah benda, baik yang berupa perangkat keras
atau lunak yang menjadi perantara terjadinya proses belajar. Media yang
dipergunakan bisa berbentuk alat peraga atau sarana. Alat peraga mengandung
ciri –ciri konsep yang dipelajari. Fungsinya untuk menurunkan keabtrakan konsep
agar siswa mampu menangkap arti dari konsep tersebut. Alat peraga bisa dibuat
guru/ siswa atau pabrik. Sarana adalah media pembelajaran yang berfungsi agar
proses belajar dapat berlangsung dengan baik. Sarana yang dipergunakan dapat
berupa perangkat keras atau perangkat lunak.
2. Materi Pembelajaran
Materi yang akan diberikan dipersiapkan dengan matang
dengan memperhatikan kondisi siswa. Materi yang akan dibelajarkan meliputi isi/
materi ( konten), hubungan dengan bidang/ilmu lain (konteks) dan proses (
transformasi isi/materi).
3. Strategi dan metode Pembelajaran
Strategi dan metode pembelajaran juga mempengaruhi
motivasi belajar siswa. Strategi dan metode yang dapat memotivasi siswa adalah
strategi dan metode yang melibatkan siswa belajar sambil mengerjakan ( Learning
by doing).
4. Sikap Guru
Guru yang tidak mau repot, puas hanya dengan sasaran
belajar pada tingkat rendah ( sisi kiri dari pola pembelajaran di atas).
Diharapkan Guru mulai mencoba mengubah sikap dengan mengarahkan sasaran
pembelajarannya pada tingkat menegah atau tingkat tinggi.
Ketiga: Mendesain Pembelajaran
Diharapkan setiap pembelajaran, siswa selalu termotivasi. Untuk menciptakan
pembelajaran yang dimaksud perlu pola yang menggambarkan pembelajaran tersebut.
Berikut salah satu pola pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi siswa.
Pola ini disusun sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran oleh para guru,
mencakup sebelum, proses dan sesudah kegiatan pembelajaran.
A. Pra Kegiatan Pembelajaran
1. Siapkan kuantitas isi pelajaran dan langkah-langkah
penyajiannya
2. Pilihlah dan siapkan alat bantu (media) dan atau
contoh-contoh berupa benda-benda riil / simulasi benda riil yang sesuai dengan
materi bahasannya
3. Cek alat peraga/eksperimen sebelum dipergunakan
baik jenis, urutan penggunaan dan fungsi alat tersebut.
4. Pilihlah strategi pembelajaran sesuai karakter
perkembangan siswadan siapkan secara baik dan matang.
5. Mencoba menggali problem dan minat para siswa
secara individu/ kelompok
B. Kegiatan Pembelajaran
I. Pendahuluan
1. Kemukakan tujuan belajar dengan jelas secara lisan
atau tertulis
2. Libatkan siswa untuk berpartisipasi dalam
menyiapkan alat peraga
3. Kenalilah siswa secara merata dan ciptakan suasana
akrab
4. Berilah gambaran mengenai mengapa materi
dipelajari, aplikasi nya dalam hidupan, anekdot-anekdot atau hal-hal menarik
lainnya yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.
II. Penyajian materi
1. Memvariasikan prosedur atau metode dengan serasi dan
tepat
2. Jangan biarkan siswa dalam kesulitan
3. Tanyakan mengenai kesulitan siswa atau berilah
kesempatan bertanya
4. Berilah penghargaan dalam bentuk pujian, komentar,
hadiah, atau bentuk lain yang relevan
5. Penyajian materi dengan alat peraga, audio, audio
visual atau dengan contoh benda-benda riil yang telah disiapkan dengan baik
6. Berikan kegiatan dengan melibatkan semua siswa dan
sediakan bagian siswa untuk kerjasama dengan kelompoknya
7. Berilah penjelasan untuk kata-kata asing yang belum
banyak dikenal siswa
8. Berilah kesempatan siswa untuk menulis catatan
penting
9. Memberikan motivasi (keyakinan, rasa simpati,
kemampuan yang dimiliki, ambil bagian) siswa
10.Berilah resume penting dan penguatan-penguatan
materi yang barusaja dibahas.
11.Berilah
tugas latihan, quiz, dan pertanyaan yang bersifat menjajaki penguasaan atas
materi yang baru saja dipelajari siswa.
Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa,pengelola
sekolah, lingkungan, kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo,
2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas
pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan, sistem
pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik,
selanjutnya sistem penilaianyang baik akan mendorong guru untuk menentukan
strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik
(Mardapi, 2003).
Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang benar
–benar guru bukan hanya guru –guruan yang sak enak udele dewe, sehingga mampu
melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program
pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada
penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan
kualitas proses pembelajaran itu sendiri.Keberhasilan proses pendidikan secara
langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut.
Salah satu indikator kualitas pendidikan yang baik adalah lulusannya yang
berkompeten atau kompetensi lulusan. Kompetensi merupakan fungsi dari banyak
variabel antara lain kemampuan peserta didik, kemampuan pendidik, fasilitas,
manajemen dan perkembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi serta seni.
Sistem evaluasi yang dipergunakan memegang peranan penting dalam laporan
lembaga pendidikan karena lewat laporan itulah orang tua akan mengetahui
perkembangan anak-anak mereka setelah mengikuti proses pendidikan di lembaga
tempat mereka menitipkan anaknya untuk belajar. Dalam memberikan laporan
kemajuan belajar, pihak sekolah harus melakukan pengukuran untuk menilai
prestasi belajar siswa selama selang waktu tertentu. Melalui laporan belajar
juga para siswa dapat melihat sejauh mana kemampuan mereka setelah menempuh
proses belajar mengajar selama selang waktu tertentu.
Menurut Norman E. Gronlund (1976), “evaluation a systematic process of
determining the extent to wich instructional objectives are achieved by pupils”
(evaluasi adalah suatu proses yang sistematik untuk menentukan atau membuat
keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh
siswa).
Bila kita menggunakan alat penilaian, kita perlu ingat bahwa alat ukur itu
harus baik. Bila alat ukur itu tidak baik, lebih baik kita tidak melakukan
penilaian dengan alat ukur itu. Syarat bahwa alat ukur itu baik adalah telah
terpenuhinya persyaratan umum yaitu validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran
dan daya beda alat ukur itu telah memadai. Syarat berikutnya bahwa alat ukur
yang dipakai itu baik, ialah tujuannya sesuai.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motif itu adalah tujuan. Tujuan ini diswbut insentif
(incentive). Adapun insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi
arah suatu kegiatan yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung,
adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.
Banyak
para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut
pandang mereka masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong
yang mengubah energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk
mencapai tujuan tertentu.
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita.L. 1983.
Pengantar psikologi. PT Gelora Aksara
Pratama : Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011.
psikologi belajar. Rineka cipta : Jakarta.
Sobur, Alex. 2013.
Psikologi umum ; dalam lintasan sejarah.
CV.Pustaka setia : Bandung.
http://doubleyuw-clover.blogspot.com/2012/11/makalah-isd-2-strategi-mengajar-untuk_14.html
![]() |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar