Rabu, 02 November 2016

makalah "motivasi"


BAB I
PENDAHLUAN

1.1              Latar Belakang
Dalam dunia yang modern ini banyak sekali orang-orang yang berbicara mengenai masalah motivasi. Bahkan sudah banyak sekali orang-orang yang dinyatakan sebagai motivator seperti halnya Mario Teguh. Sebegitu pentingnya motivasi sehingga pemberian motivasi pun sudah dipublikasikan dalam dunia pertelevisian tak hanya itu, dalam setiap seminar-seminar banyak sekali kita temukan acara-acara yang menghadirkan sang motivator-motivator guna memberikan motivasi kepada para peserta seminar. Dan biasanya sang motivator adalah orang-orang yang sukses. Lalu apakah sebenarnya motifasi itu ?
Dalam makalah ini lah pemakalah akan mencoba sedikit menjelaskan tentang motivasi maupun hal-hal yang bersangkutan dengan motivasi.
1.2              Rumusan Masalah
1.      Apakah devinisi motif dan motivasi ?
2.      Bagaimana konsep kebutuhan motivasi ?
3.      Bagaimanakah dinamika motivasi ?
4.      Apakah fungsi motivasi ?
5.      Apa sajakah strategi dan pengukuran motivasi ?
1.3              Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apakah motif dan motivasi.
2.      Untuk mengetahui konsep kebutuhan motivasi.
3.      Untuk mengetahui dinamikamotivasi.
4.      Untuk mengetahui fungsi motivasi.
5.      Untuk mengetahui strategi dan pengukuran motivasi.



 

1.4              Metode Penulisan
Pengambilan sumber isi makalah dilakukan dengan cara membaca buku-buku referensi, penelususran web-web yang bersangkutan dengan materi, dan dari penalaran penulis.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Devinisi Motif dan Motivasi
            Ada beberapa pendapat mengenai pengertian motif. Sherif & Sherif (1956), menyebutkan motif sebagai suatu istilah generik yang melipui semua faktor internal yang mengarah pada berbagai jenis prilaku yang bertujuan, semua pengaruh internal, seperti kebutuhan (needs) yang berasal dari fungsi-fungsi organisme, dorongan dan kinginan, aspirasi dan selera sosial, yang bersumber dari fungsi-fungsi tersebut. Giddens (1991:64) mengartikan motif sebagai impuls atau dorongan yang memberi energi pada tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif/prilaku kearah pemuasaan kebutuhan. Menurut Giddens, motif tak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan suatu “keadaan perasaan” secara singkat, Nasution menjelaskan bahwa motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
            Jadi motif itu adalah tujuan. Tujuan ini disebut insentif (incentive). Adapun insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.[1]
            Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
            mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energy didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Oemar Hamalik, 1992: 173) perubahan dalam diri sesorang itu berbentuk aktifitas nyata berupa kegiatan fisik. Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktifitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
2.2       Konsep Kebutuhan
            Tingkah laku bermotivasi dapat dirumuskan sebagai “tingkah laku yang dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian suatu tujuan, agar suatu kebutuhan terpenuhi dan suatu kehendak terpuaskan” (Dirgagunarsa, 1996:93-94).
            Katz dan kawan-kawan menelusuri asal-usul kebutuhan pada apa yang secara samar-samar mereka identifikasikan sebagai “asal-usul sosial dan psikologis”-nya (Katz, et.al., 1974:14) Rosengren (1974:270) mendefinisikan kebutuhan sebagai “infrastruktur biologis dan psikologis yang menjadi landasan bagi semua prilaku sosial manusia” dan bahwa “sejumlah besar kebutuhan biologis dan psikologis.... menyebabkan kita beraksi dan bereaksi”.
            Dari segi arti psikologis, Msthafa Fahmi menjelaskan kata “kebutuhan” sebagai suatu istilah yang digunakan secara sederhana untuk menunjukkn suatu fikiran atau konsep yang menunjuk pada tingkah laku makhluk hidup dalam perubahan dan perbaikan yang tergantung atas tunduk dan dihadapkanya pada proses pemilihan (Fahmi, 1977: 45). Batasan ini, menurut Fahmi dikenal dengan batasan pragmatis.
            McQuail, Blumler, dan Brown (1972:144) berpendapat bahwa kebutuhan berasal dari “pengalaman sosial” dan bahwa media masa sekalipun “kadang-kadang dapat membant membangkitkan  khalayak ramai mengenai suatu kesadaran” akan kebutuhan tertentu yang berhubungan dengan situasi sosialnya”.
           


2.2.1    Teori-Teori Kebutuhan
            Hierarki kebutuhan maslow
            Secara singkat maslow berpendapat bahwa kebutuhan manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu hierarki atau jenjang peringkat. Pada awalnya, maslow mengajukan hierarki 5 tingkat yang terdiri atas kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, penghargaan, dan mewujudkan jati diri. Dikemudian hari, ia menambahkan dua kebutuhan lagi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui dan memahami serta kebutuhan estetika (Ross, 1998).
            Teori ERG (Exxistment, Relatedness, Growth)
            Alderffer  (1972) mengemukakan tiga kategori kebutuhan. yaitu : excistence (E) atau eksistensi (meliputi kebutuhan fisiologis seperti lapar,haus.dsb), relatedness (R) atau keterkaitan (hubungan orang-orang yang penting bagi seseorang, seperti keluarga, sahabat dan penyedia tempat kerja), dan growth (G) atau pertumbuhan (keinginan untuk produktif atau kreatif).
            Teori motifasi dua faktor
            Dengan menggunakan teknik insiden kritis, Herzberg mengumpulkan data tentang kepuasaan dan ketidak puasaan orang dalam pekerjaan mereka. Faktor-faktor yang memengaruhi kepuasaan kerja disebut motivator (prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan. dsb). Faktor faktor yang berkaitan dengan ketidak puasaaan disebut faktor pemeliharaan (maintenance) “gaji, pengawasan, keamanan kerja, administrasi.dsb.”
            Teori desakan kebutuhan Murray
            Menurut Murray kebutuhan manusia berdiri sendiri-sendiri, terpisah satu dari yang lain. Ini berarti jika kita mengetahui suatu kekuatan atau tingkat kepuasaan sau kebutuhan tidak berarti kita akan tau pula mengenai tingkat kekuatan kebutuhan-kebutuhan lain.
            Teori kebutuhan untuk berprestasi McClelland
            Menurut David untuk membuat suatu pekerjaan berhasil, yang paling penting adalah sikap terhadap pekerjaan tersebut.
            Teori harapan Vroom
            Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis-jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan, alih-alih berdasarkan kebutuhan internal. Teori harapan memiliki tiga asumsi pokok :
1)         setiap individu percaya bahwa ia berprilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu.
            2)         setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu.
            3)         setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa
 sulit mencapai hasil tersebut.
2.3       Strategi Dan Pengukuran Motivasi
Kata strategi berasal dari bahasa Yunani "strategia" yang diartikan sebagai "the art of the general" atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mecapai tujuan. Strategi pada dasarnya merupakan seni dan ilmu menggunakan dan mengembangkan kekuatan (ideologi, politik, ekonomi,sosial-budaya dan hankam) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
            Untuk mengubah pola pembelajaran tentu memerlukan perubahan sikap dari guru dalam menentukan sasaran pembelajaran. Perubahan yang harus dilakukan adalah perubahan dari :
1. Sasaran menghafal menjadi Berfikir kritis dilanjutkan meneliti, kemungkinan dengan penjelasan yang rasional
2. Kegiatan meringkas, mengulas menjadi mengidentifikasi, merumuskan diteruskan dengan bertanya, menilai, berargumentasi dan berhipotesa
3. Bertanya dengan kata apa, siapa, mengapa, dimana menjadi Bagaimana, Bagaimana kalau.. ? Apakah syah dan penting ?
4. Tujuannya benar menurut fakta menjadi mendapat gagasan asli dari siswa dan memperbaiki yang lama.
5. Pendekatan belajar mengulang menjadi menganalisa dan mencoba hal-hal baru
Kedua: Mengembangkan unsure-unsur yang mampu memotivasi      Para Pendidik ahli menawarkan ide-ide bagaimana membangun strategi memotivasi siswa lebih dari 200 ide yang disajikan dalam buku “ A Recource Guide for Secondary School Teaching “ terlampir. Ide-ide tersebut perlu kita kaji lebih lanjut, apakah ide-ide itu di sekolah kita dapat dilaksanakan seluruhnya, sebagian atau perlu modifikasi. Dengan mengkaji ide-ide strategi motivasi dari sumber tersebut di atas, dapat diketahui ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran agar menumbuhkan motivasi siswa .Berikut adalah unsure-unsur yang mampu membangun motivasi anak:
1. Media Pembelajaran
Media adalah benda, baik yang berupa perangkat keras atau lunak yang menjadi perantara terjadinya proses belajar. Media yang dipergunakan bisa berbentuk alat peraga atau sarana. Alat peraga mengandung ciri –ciri konsep yang dipelajari. Fungsinya untuk menurunkan keabtrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti dari konsep tersebut. Alat peraga bisa dibuat guru/ siswa atau pabrik. Sarana adalah media pembelajaran yang berfungsi agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik. Sarana yang dipergunakan dapat berupa perangkat keras atau perangkat lunak.
2. Materi Pembelajaran
Materi yang akan diberikan dipersiapkan dengan matang dengan memperhatikan kondisi siswa. Materi yang akan dibelajarkan meliputi isi/ materi ( konten), hubungan dengan bidang/ilmu lain (konteks) dan proses ( transformasi isi/materi).
3. Strategi dan metode Pembelajaran
Strategi dan metode pembelajaran juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Strategi dan metode yang dapat memotivasi siswa adalah strategi dan metode yang melibatkan siswa belajar sambil mengerjakan ( Learning by doing).
4. Sikap Guru
Guru yang tidak mau repot, puas hanya dengan sasaran belajar pada tingkat rendah ( sisi kiri dari pola pembelajaran di atas). Diharapkan Guru mulai mencoba mengubah sikap dengan mengarahkan sasaran pembelajarannya pada tingkat menegah atau tingkat tinggi.
Ketiga: Mendesain  Pembelajaran
            Diharapkan setiap pembelajaran, siswa selalu termotivasi. Untuk menciptakan pembelajaran yang dimaksud perlu pola yang menggambarkan pembelajaran tersebut. Berikut salah satu pola pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi siswa. Pola ini disusun sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran oleh para guru, mencakup sebelum, proses dan sesudah kegiatan pembelajaran.
A. Pra Kegiatan Pembelajaran
1. Siapkan kuantitas isi pelajaran dan langkah-langkah penyajiannya
2. Pilihlah dan siapkan alat bantu (media) dan atau contoh-contoh berupa benda-benda riil / simulasi benda riil yang sesuai dengan materi bahasannya
3. Cek alat peraga/eksperimen sebelum dipergunakan baik jenis, urutan penggunaan dan fungsi alat tersebut.
4. Pilihlah strategi pembelajaran sesuai karakter perkembangan siswadan siapkan secara baik dan matang.
5. Mencoba menggali problem dan minat para siswa secara individu/ kelompok
B. Kegiatan Pembelajaran
I. Pendahuluan
1. Kemukakan tujuan belajar dengan jelas secara lisan atau tertulis
2. Libatkan siswa untuk berpartisipasi dalam menyiapkan alat peraga
3. Kenalilah siswa secara merata dan ciptakan suasana akrab
4. Berilah gambaran mengenai mengapa materi dipelajari, aplikasi nya dalam hidupan, anekdot-anekdot atau hal-hal menarik lainnya yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.
II. Penyajian materi
1. Memvariasikan prosedur atau metode dengan serasi dan tepat
2. Jangan biarkan siswa dalam kesulitan
3. Tanyakan mengenai kesulitan siswa atau berilah kesempatan bertanya
4. Berilah penghargaan dalam bentuk pujian, komentar, hadiah, atau bentuk lain yang relevan
5. Penyajian materi dengan alat peraga, audio, audio visual atau dengan contoh benda-benda riil yang telah disiapkan dengan baik
6. Berikan kegiatan dengan melibatkan semua siswa dan sediakan bagian siswa untuk kerjasama dengan kelompoknya
7. Berilah penjelasan untuk kata-kata asing yang belum banyak dikenal siswa
8. Berilah kesempatan siswa untuk menulis catatan penting
9. Memberikan motivasi (keyakinan, rasa simpati, kemampuan yang dimiliki, ambil bagian) siswa
10.Berilah resume penting dan penguatan-penguatan materi yang barusaja dibahas.
11.Berilah tugas latihan, quiz, dan pertanyaan yang bersifat menjajaki penguasaan atas materi yang baru saja dipelajari siswa.
                        Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa,pengelola sekolah, lingkungan, kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya (Suhartoyo, 2005). Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaianyang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik (Mardapi, 2003).
            Sehubungan dengan itu, maka di dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang benar –benar guru bukan hanya guru –guruan yang sak enak udele dewe, sehingga mampu melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, namun perlu penilaian terhadap input, output dan kualitas proses pembelajaran itu sendiri.Keberhasilan proses pendidikan secara langsung akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut. Salah satu indikator kualitas pendidikan yang baik adalah lulusannya yang berkompeten atau kompetensi lulusan. Kompetensi merupakan fungsi dari banyak variabel antara lain kemampuan peserta didik, kemampuan pendidik, fasilitas, manajemen dan perkembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi serta seni.
            Sistem evaluasi yang dipergunakan memegang peranan penting dalam laporan lembaga pendidikan karena lewat laporan itulah orang tua akan mengetahui perkembangan anak-anak mereka setelah mengikuti proses pendidikan di lembaga tempat mereka menitipkan anaknya untuk belajar. Dalam memberikan laporan kemajuan belajar, pihak sekolah harus melakukan pengukuran untuk menilai prestasi belajar siswa selama selang waktu tertentu. Melalui laporan belajar juga para siswa dapat melihat sejauh mana kemampuan mereka setelah menempuh proses belajar mengajar selama selang waktu tertentu.
            Menurut Norman E. Gronlund (1976), “evaluation a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achieved by pupils” (evaluasi adalah suatu proses yang sistematik untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa).
            Bila kita menggunakan alat penilaian, kita perlu ingat bahwa alat ukur itu harus baik. Bila alat ukur itu tidak baik, lebih baik kita tidak melakukan penilaian dengan alat ukur itu. Syarat bahwa alat ukur itu baik adalah telah terpenuhinya persyaratan umum yaitu validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya beda alat ukur itu telah memadai. Syarat berikutnya bahwa alat ukur yang dipakai itu baik, ialah tujuannya sesuai.
BAB III
PENUTUP
3.1       Simpulan
motif itu adalah tujuan. Tujuan ini diswbut insentif (incentive). Adapun insentif bisa diartikkan sebagai suatu tujuan yang menjadi arah suatu kegiatan yang bermotif. Contoh motif, seperti telah disinggung, adalah lapar (hunger), maka insentifnya adalah makan.
Banyak para ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing. Namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energy dalam diri seseorang kedalam bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.



 

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita.L.        1983. Pengantar psikologi. PT Gelora Aksara Pratama : Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri.        2011. psikologi belajar. Rineka cipta : Jakarta.
Sobur, Alex.    2013. Psikologi umum ; dalam lintasan sejarah. CV.Pustaka setia : Bandung.
http://doubleyuw-clover.blogspot.com/2012/11/makalah-isd-2-strategi-mengajar-untuk_14.html


 


[1] ).Alex Sobur, psikologi umum,  (bandung: pustaka setia,2013), Cet-5, hal.268.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar